Friday, December 11, 2009

Dua Potongan Kecil - bagian kedua



Potongan kedua



Via Sant’ Eligio, Roma, Italia. 25 februari 2008, 18.30

Beberapa minggu setelah menyelesaikan misinya di Istambul, Roque menghilang begitu saja. Tak ada kabar dan tak satupun tahu keberadaannya termasuk Andrea. Setelah itu ia kembali ke Italia untuk menjalani kehidupannya seperti sedia kala.
Roque memasuki apartement dan menaiki lift menuju kamarnya di lantai 21. Penampilannya tak berubah, masih mengenakan jeans, t-shirt dan topi hitam. Sweater telah ia tinggalkan karena sekarang udara di kota Roma sudah tidak terasa dingin lagi.

Ketika Roque memasuki lift, di dalamnya sudah ada seorang pria paruh baya seorang diri dengan menenteng koran tergulung di tangannya. Pria yang baru kali ini di jumpainya tersebut memberikan senyuman pada Roque, dan ia balas tersenyum.
Orang ini tampak ramah dan berpenampilan santai. Mungkin ia adalah kerabat dari salah satu penghuni apartement ini, begitu pikir Roque. Roque tak ingin ambil pusing dan sebisa mungkin menghindarkan diri dari berhubungan dengan orang-orang yang tidak perlu demi menjaga rahasia identitasnya.

Orang tersebut keluar dari lift, dan kini lift bergerak naik menuju lantai 21. Ketika telah sampai di depan kamar, Roque mendapati sesuatu yang mencurigakan. Seseorang telah memasuki kamarnya. Itu terlihat dari pintu kamar yang masih sedikit terbuka. Roque membuka pintu itu perlahan lalu masuk ke dalam dengan hati-hati.



Di balik tirai tampak sesosok bayangan yang sedang duduk di kursi. Roque bersiap mengeluarkan pistol Jericho 941FB dari balik bajunya.

“Masuk saja, tidak usah mengendap-endap seperti itu.” Tiba-tiba suara tersebut memecah ketegangan. Ternyata suara seorang wanita! Dan wanita ini sudah tak asing lagi bagi Roque, tentu saja Andrea!

“Sejak kapan kau ada di sini?” Roque berjalan mendekati Andrea sambil menyelipkan kembali pistolnya ke balik baju. Ia meletakkan tasnya di lantai kemudian berjalan lagi menuju lemari es.

“Sekitar 15 menit yang lalu.” Andrea masih duduk membelakangi Roque.

“Ada berita bagus?”

“Semuanya kabar buruk,” Andrea memutar kursi dan mengarahkan pandangan pada Roque, “Kemana saja kau selama ini?!”

“Madrid.” Roque menuangkan Tequila ke dalam dua gelas.

“Untuk apa? Aku keusulitan menghubungimu selama ini!” Andrea berbicara dengan sedikit kesal.

“Apa kabar buruknya?” Roque memberikan salah satu gelas pada Andrea

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!” Andrea bertambah kesal karena Roque berusaha mengacuhkan pertanyaannya

“Aku sengaja menghilang untuk sementara waktu” Roque menyalakan Marlboro-nya.

“Untuk apa kau menghilang?! Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu!”

“Itulah asyiknya. Semakin kau tak mengerti, akan semakin menyenangkan” Roque tersenyum dan mengernyitkan dahi pada Andrea.

“Aku tidak sedang tidak bercanda! Dasar orang aneh!”

“Hemph… baiklah, wanita memang selalu seperti itu” Roque menghisap rokok lalu meneruskan pembicaraan, “Aku mencium ada kejanggalan setelah kejadian di Istambul. Sebuah media lokal setempat memberitakan bahwa gerakan oportunis Italia bertanggung jawab atas kematian George”

“Kenapa bisa seperti itu?”

“Entahlah, yang jelas ada seseorang mengaku sebagai anggota gerakan itu dan bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.”

“Apakah itu artinya kau di jadikan umpan?”

“Mungkin. Tapi bisa juga gerak-geriku sudah lama tercium oleh pihak keamanan. Yang lebih mengherankan, transaksiku dengan Bill berjalan lancar. Dan pembayaran atas jasaku pun telah kuterima tepat seperti apa yang ia janjikan“

“Lalu kenapa kau juga menghilang dariku?! Apa kau curiga aku yang telah mengkhianatimu?”

Roque tersenyum lagi, “Kau sudah terlalu bodoh untuk menjadi bagian dari pekerjaan ini, dan kukira kau tidak akan berbuat lebih bodoh lagi untuk mengkhianatiku.”

“Lantas mengapa?” Andrea semakin bingung dan penasaran.

“Aku tak ingin melibatkanmu lebih jauh lagi. Pekerjaan ini sudah terlalu berbahaya buatmu. Kukira alasan itu sudah cukup kuat untuk menjawab pertanyaanmu.”

“Kau benar-benar membuatku marah!” Andrea bangun dari tempat duduknya dan berbicara pada Roque dengan sangat kesal, “Apa kau pikir selama ini aku tak menyadari resikonya?!”

“Lalu mengapa kau tetap bersikukuh menantang bahaya?” Walaupun Andrea sudah sangat marah, tetapi Roque masih terlihat santai dan bersikap tenang sambil menikmati tequila dan Marlboro-nya.

“Kau pasti sudah tahu alasannya! Kau terlalu naïf!”

“Aku hanya tak ingin kau celaka,” terang Roque.

“Lalu kau pikir aku akan membiarkanmu celaka sendiri?!!” Andrea berteriak pada Roque dan tanpa disadari ia telah menitikan air mata.

Roque spontan memegang kedua bahu Andrea dan memeluknya, “Maafkan aku” ia berbisik lirih.

Untuk beberapa saat mereka merasakan sebuah kehangatan yang sulit untuk dijelaskan. Selama mengenal Roque, Andrea tak pernah diperlakukan seperti ini. Ia hanya terbiasa dengan sikap dingin Roque. Dan Roque pun tak menyadari apa yang sedang ia lakukan, ia hanya tahu kalau saat itu ia sangat tak ingin kehilangan Andrea.

Setelah semuanya reda, Roque melepaskan pelukannya dan mengambil sebungkus Marlboro dari saku jeans. Ia mengambil sebatang lalu menyelipkan rokok itu di bibir Andrea.

“Hisaplah, ini akan membuatmu lebih tenang.” Roque menyalakan rokok itu untuk Andrea.

Andrea menghisap rokok itu perlahan, sedikit demi sedikit karena ia tak terbiasa merokok. Awalnya Andrea terlihat canggung, namun setelah beberapa saat ia mulai bisa menikmatinya. Setelah itu Andrea tersenyum pada Roque.

“Kau memaafkan ku?” Roque membalas senyum Andrea.

Andrea mengangguk dan mengambil gelas berisi tequila di atas meja kemudian meminumnya.

“Baiklah, kalau begitu sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku tadi. Ada kabar buruk apa?”

“Belakangan ini aku juga curiga kalau kita sudah tercium oleh pihak keamanan.”

“Apa yang terjadi?”

“Alinsky dan dua orang komplotannya telah diringkus polisi!”

“Sudah kuduga. Tidak terlalu buruk, biarlah si brengsek itu meringkuk di penjara!”

“Tetapi ada yang lebih buruk, nama mu juga ikut terseret ke dalam masalah itu!”

“Maksudmu?!”

“Mungkin polisi telah berhasil mendapatkan keterangan tentang kita dari Alinsky”

“Kita?!”

“Ya. Bukan cuma kau, tapi aku juga. Belakangan ini tempat kerjaku sering di kunjungi polisi. Aku curiga mereka sedang mengawasiku.”

“Sial! Sudah ku duga, pada akhirnya pasti jadi seperti ini!” Roque menggebrak meja dan berjalan ke arah jendela.

“Aku sarankan padamu untuk lebih berhati-hati. Selama ini aku tidak tinggal diam, dan kudengar badan intelligent Amerika dan kepolisian dari divisi khusus Italia tengah bekerjasama untuk menangani kasus ini”

“Langkah kita akan semakin sulit.”

“Begitulah, apalagi ada berita yang kuterima bahwa sejumlah detektif senior telah diturunkan.”

“Apa kemungkinan terburuknya?”

“Aku tak tahu persis. Tapi yang pasti jika kita lengah sedikit saja, maka kita akan bernasib sama seperti Alinsky dan komplotannya”

“Kita tak bisa disamakan dengan kawanan anjing hutan itu!”

“Semoga saja begitu. Ada sebuah catatan khusus tentang detektif senior yang baru saja ku singgung. Kabarnya seorang detektif kawakan telah terjun ke lapangan dan menyelidiki kasus ini secara langsung.”

“Cuma sampai disitu? Apa istimewanya?” Roque tak pernah takut pada siapapun.

“Masih ada lagi. Namanya Alessandro Ricci. Ia memiliki track record yang sangat luar biasa. Namanya pernah tercatat di beberapa kesatuan Intelligent khusus, dan terakhir yang ku dengar ia bergabung di divisi kriminal dan anti-terrorist. Ia bukan hanya detektif biasa. Lebih dari itu, ia merupakan agent yang sangat professional! Setiap penjahat yang mendengar namanya pasti akan gemetar!”

Roque tersenyum sinis, “Aku yakin detektif itu pun akan gemetar jika mengetahui track record-ku”

“Ya, siapapun akan bergetar mendengar nama The Black Jaguar!” Andrea ikut tersenyum.

“Yang penting kita terus bergerak. Dunia ini diselimuti salju, jika kita tidak ingin mati membeku maka kita harus tetap bergerak”

“Baiklah, aku pulang. Kau kelihatan masih perlu istirahat. Ingat pesanku, berhati-hatilah, karena mungkin tempat ini sudah terlacak” setelah itu Andrea pergi meninggalkan kediaman Roque.




Stazione Termini, 3 Maret 2008. 11.45


Hari ini tak seperti biasanya, Roque tengah berada di terminal bus Termini. Roque baru saja turun dari bus. Ia telah menempuh perjalanan dari Venezia dan baru saja tiba kembali di Roma. Roque yang saat itu mengenakan t-shirt putih dan jacket berwarna cokelat tampak sedang berjalan diantara kerumunan orang-orang. Ia lebih sering terlihat menundukkan kepala dan menyembunyikan wajah dibalik topi hitamnya. Ia berjalan menyusuri koridor dan berhenti tepat di depan newspaper station. Roque membeli sebuah koran kemudian berjalan lagi keluar dari terminal tersebut. Ia langsung melanjutkan perjalanannya dengan sebuah taxi.

Roque duduk di bangku belakang kemudian membuka koran yang baru saja ia beli tersebut. Ia sedikit terkejut melihat salah satu berita utama di halaman depan Koran itu. Disebutkan disana bahwa badan intelligent Amerika telah menetapkan satu tersangka dalam kasus pembunuhan George. Walaupun identitas si tersangka tidak di sebutkan, tetapi CIA telah menyatakan bahwa orang yang kini menjadi buruan utama mereka tersebut tengah berada di Italia.

Entah kenapa setelah membaca berita di koran itu Roque malah tersenyum. Raut wajahnya terlihat tenang seakan tak tampak sedikitpun ke-khawatiran disana.
Setelah menutup korannya, ia menepuk pundak si supir taxi, “Berputar pak, ke Via Delle Fornacci, cepat!”






Gianni Vallota Café- Via Delle Fornacci, Roma, Italia_


Andrea tengah melayani pengunjung ketika Roque masuk ke dalam café. Roque tidak langsung duduk di kursi, ia masih berdiri di depan counter hingga Andrea menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” Andrea menggoda Roque sambil tersenyum padanya

“Hemph, dalam keadaan begini kau masih bisa bercanda!” Roque menyalakan Marlboro-nya

“Ada berita apa lagi?”

“CIA telah menetapkan seorang tersangka dan mereka menyebutkan bahwa orang itu berada di Italia” Roque berkata kepada Andrea, tetapi dari tadi wajahnya menghadap ke jalan diluar dan sama sekali tak menatap Andrea.

“Sial! Kita semakin tersudut!”

“Kembalilah pada pembeli.” Raut wajah Roque tampak berubah.

“Ada apa Roque?” Andrea tampak keheranan.

“Di seberang jalan ada sebuah Van putih, di dalamnya ada sekitar 6 orang, semua bersenjata. 20 meter arah jarum jam angka 3 dari sedan itu ada sebuah sedan Mercedes Benz hitam terparkir di ujung trotoar. Orang di dalam mobil itu sejak tadi terus mengawasi tempat ini.”

Roque memperingatkan Andrea dengan pandangan tajam kearah mobil tersebut tanpa menoleh sedikitpun.

Tak lama setelah itu salah satu pintu sedan terbuka, keluarlah seorang pria mengenakan jas dan kaca mata hitam dari dalam mobil tersebut. Orang itu hanya keluar sendiri lalu berjalan ke arah Roque.

Andrea masih tak mengerti apa yang Roque katakan. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi disitu. Andrea menoleh kearah yang Roque tunjukkan, tapi ia malah kebingungan.

“Kembalilah pada pembeli, lakukan kesibukan apapun, sekarang!” Roque memperingatkan Andrea lagi. Kali ini ia tak main-main.

Walaupun Andrea tak tahu betul apa yang dimaksud oleh Roque, tetapi ia segera mengikuti perintahnya.

Pria ber-kacamata itu masuk ke dalam café, dan berdiri tepat di samping Roque. Ia melepaskan kacamata-nya, dan salah satu tangan yang lain ada di dalam saku celana. Orang itu menoleh pada Roque, tapi pandangannya terus mengawasi tempat itu.

“Mencari sesuatu?” Roque menyapa orang tersebut sambil menyalakan Marlboro.

“Oh, hanya mampir membeli beberapa makanan ringan untuk menemani patrol.” Pria itu sedikit terkejut dengan sapaan Roque. Ia kaget karena Roque mungkin tahu gerak-geriknya sejak tadi, begitu pikirnya.

“Kepolisian?”

“Ya.” pria itu menjawab pertanyaan Roque sambil menunjukkan kartu identitas-nya.

Tak lama kemudian datanglah pelayan yang berdiri di belakang etalase counter.

“Ada yang bisa saya bantu?” si pelayan bertanya pada polisi itu.

“Saya minta cornetti dan sandwich.” polisi itu berkata.

“Baik, minumannya?” si pelayan bertanya lagi sambil mencatat pesanan polisi itu.

“Grappa, semuanya di bungkus untuk enam orang.”

“Baiklah, silahkan anda bisa menunggu sebentar di kursi yang tersedia” Polisi itu langsung duduk di tempat yang telah dipersilahkan.

“Buatkan aku cappuccino dan stuffed baked potato” Roque mengedipkan mata pada Andrea yang sejak tadi memperhatikan Roque dan polisi itu dari tempat yang agak jauh
Roque duduk di kursi tak jauh dari polisi itu, kini ia tampak tenang dan sepertinya tak ada sedikitpun rasa cemas yang terlihat di wajahnya.

Setelah pesanan di antar ke mejanya, polisi itu langsung pergi. Roque terus memperhatikan sampai orang itu naik kembali ke dalam mobil. Mereka tak langsung meninggalkan tempatnya. Entah apa yang mereka lakukan disitu, tetapi tak lama kemudian sedan tersebut berjalan lalu diikuti oleh van yang mencurigakan itu.

Andrea merasa situasi kini telah aman. Ia pun segera mendekati Roque.

“Siapa orang tadi?”

“Polisi.” Roque menjawab pertanyaan Andrea sambil asyik menyantap kentang bakar di hadapannya.

“Menurutmu ada hubungannya dengan kita?”

“Tentu saja.”

Agaknya sikap Roque ini memang sangat sulit dirubah, ia selalu berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. Sikap yang terkesan acuh ini hampir selalu ia perlihatkan ketika ia sedang berbicara.

“Lalu kenapa kau terlihat santai-santai saja?”

“Menghadapi masalah seperti ini sangat dibutuhkan ketenangan. Lagipula kenapa aku harus risau?”

“Jalan pikiranmu memang aneh!”

“Hmm…” Roque hanya tersenyum

“Aku semakin khawatir dengan sepak terjang polisi-polisi itu.”

“Kenapa mesti begitu? Seharusnya mereka yang waspada dengan sepak terjang kita”

“Aku semakin tak tahu apa yang harus di lakukan!”

“Lho, kau ini seperti bukan Andrea yang ku kenal saja. Kau sendiri yang bilang padaku, kita harus ekstra hati-hati. Kurasa hanya itu yang perlu kita lakukan. Selebihnya, kita
tunggu perkembangan”

Roque beranjak dari tempat duduknya,

“Jangan lengah sedikitpun!”

pandangan mata Roque sangat tajam pada Andrea. Andrea baru benar-benar menyadari kalau Roque juga sangat serius dalam hal ini.




***




Via Sant’ Eligio, Roma, Italia. 19.10.


Kini Roque telah kembali ke apartementnya lagi. Setelah masuk kamar, ia melemparkan tas yang ia bawa ke lantai, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Roque terlihat sangat lelah, mungkin terlalu lelah. Belakangan ini ia hampir tak pernah bisat tidur nyenyak seperti biasa-nya. Bagaimanapun juga kabar tentang identitas-nya yang terungkap sangatlah mengganggu Roque.

Roque merebahkan badannya diatas tempat tidur dengan posisi terlentang. Ia meletakkan kedua tangannya dibawah kepala. Pandangan matanya tertuju ke langit-langit kamar yang dipenuhi sarang laba-laba tersebut, tetapi pikirannya menerawang jauh entah kemana. Banyak hal yang terlintas di otaknya, dan itu semua membuat Roque sangat lelah.
Roque meraba kantong jacket yang berada tepat di sampingnya, lalu mengeluarkan bungkus Marlboro dan mengambil rokok itu sebatang.

Ia menyalakan rokok terserbut walaupun sedang terbaring diatas tempat tidur. Lagi-lagi ia menghisap rokok. Roque memanglah seorang perokok berat, dan entah sudah berapa batang rokok yang telah ia habiskan hari ini. Terlebih lagi, biasanya seorang perokok berat akan menghisap lebih banyak rokok ketika ia sedang dalam keadaan tertekan.

Roque menghisap rokok itu dalam-dalam kemudian mengeluarkan asap-nya melalui mulut dan lubang hidung secara perlahan, begitu- dan begitu seterusnya hingga pandangan mata Roque berkunang-kunang dan rokok itu terlepas dari jepitan kedua jarinya lalu terjatuh ke lantai. Ia membiarkan puntung rokok tersebut begitu saja. Suatu kebiasaan buruk khas ala Roque!

Beberapa saat setelah itu, pandangan Roque semakin berkunang-kunang, lalu sedikit demi sedikit matanya terpejam dan ia pun terlelap dalam tidurnya…



Pagi keesokan harinya_

Jam dinding di kamar Roque menunjukkan pukul 06.30 pagi. Waktu itu terasa sangat terlalu pagi buat Roque. Bahkan matahari pun belum bersinar terik saat itu, namun Roque telah bangun dari tidurnya.

Sudah lama sekali ia tak pernah bangun tidur seawal ini. Ia selalu keluar malam dan baru kembali ke apartement nya setelah lewat tengah malam. Terkecuali hari ini, semalaman ia tertidur pulas dan akhirnya ia pun terbangun pagi-pagi benar. Ya, setidaknya itu bagi Roque
Roque menyingkirkan bantal yang menutupi mukanya lalu melihat jam di dinding. Setelah menengok ke jendela, kemudian ia baru sadar bahwa saat itu hari masih pagi betul. Ia mengangkat tubuhnya lalu duduk di tepi tempat tidur untuk beberapa saat. Roque membuka jendela dan membiarkan udara segar masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan menuju lemari es dan membukanya. Tidak seperti biasanya, pagi ini Roque tak berselera pada alkohol. Ia hanya mengambil sebotol air mineral lalu ditengakknya air tersebut sampai habis.

Belum selesai Roque menikmati suasana pagi hari itu, bell kamar apartementnya berbunyi. Ia pun langsung melihat siapa gerangan orang yang sudah bertamu padanya pagi-pagi benar.

Roque melihat keluar melalui lubang kecil di pintu. Ternyata orang tersebut ialah seorang pria paruh baya yang tempo hari di jumpainya di dalam lift. Kini Roque mulai curiga pada orang itu. Sudah dua tahun lebih ia tinggal di apartement ini, selain Andrea baru sekarang ada orang bertamu ke kamarnya.

Tak ada pilihan lain, ia harus membukakan pintu. Kalau orang itu tahu ia ada di dalam dan tak membuka pintunya, justru akan terkesan mencurigakan nantinya, pikiri Roque.

“Selamat pagi. Maaf karena mungkin saya datang kesini terlalu pagi. Saya Ricci, baru tinggal di apartement ini empat hari yang lalu. Bolehkah saya masuk ke dalam?”

Sontak Roque sangat terkejut mendengar nama itu! Bukankah Pazzini adalah nama seorang agent khusus yang pernah di ceritakan Andrea! ‘Gawat’ pikirnya. Kenapa orang ini tahu persembunyiannya dan sekarang tiba-tiba sudah berada disini?!

Belum selesai Roque berpikir, orang itu melanjutkan perkataannya, “Emm… keran di kamar mandiku rusak. Sepertinya bentuk saluran air di kamarku kurang baik, jadinya sering tersumbat. Kalau anda tidak keberatan, saya hanya ingin melihat-lihat milik anda, karena sebentar lagi ada petugas yang akan memperbaikinya. Saya ingin orang itu merubahnya, tapi saya belum tahu. Mungkin bentuk saluran air di kamar mandi anda bisa saya tiru.”

Orang yang bernama Ricci tersebut jadi tampak bingung. Pasalnya, bukannya segera menjawab pertanyaan orang itu, Roque malah sedikit melamun.

“Oh… ya… maaf, saya baru saja bangun tidur. Silahkan masuk.” Roque mempersilahkan orang itu mauk ke dalam kamarnya.

“Sudah lama tinggal di sini?”, Ricci membuka pembicaran.

“Dua tahun. Di sebelah sana kamar mandinya”, Roque menjawab pertanyaan Ricci sambil menunjukkan letak kamar mandi.

“Permisi, saya lihat kamar mandinya dulu.”

“Ya, silahkan”, Roque masih bingung apa yang harus dilakukan.

“Oh ya, saya belum tahu nama anda”, Ricci berbicara pada Roque dari dalam kamar mandi.

“Roque… Roque Fabian Aguerra”, Roque membuka lemari es dan mengambil sebotol Carlsberg serta dua buah gelas berukuran sedang.

“Nama yang bagus…”

Setelah selesai melihat saluran air, Ricci keluar dari kamar mandi lalu mengajak Roque berjabat tangan,

“Kenalkan, namaku Alessandro Ricci. Mulai sekarang kita ber-tetangga.” Ia melemparkan senyum ramah pada Roque.

“Baiklah. Duduklah dulu, kalau anda tak keberatan, sebotol bir bisa menemani kita ngobrol-ngobrol sebentar”

Roque menawarkan Ricci untuk berbincang-bincang dengannya. Entah apa yang ia pikirkan. Ataukah ia malah memang sengaja melakukan itu untuk mencairkan suasana.

“Haha… ya, ya terima kasih”

Ricci duduk di sofa yang terletak di sudut ruang depan, lalu diikuti oleh Roque.

“Kalau boleh tau, apa pekerjaan anda?” Roque bertanya pada Ricci sambil menuangkan Carlsberg dingin ke dalam dua gelas di atas meja.

“Saya seorang detektif dan agent khusus. Tapi itu dulu, sekarang saya hanyalah seorang pria tua biasa yang sedang menghabiskan sisa masa hidupnya di Italia”, Ricci berkata dengan tersenyum ramah.

Roque kaget setengah mati!!! Orang yang sekarang berada di hadapannya ini benar-benar seperti apa yang di ceritakan Andrea! Tapi kenapa ia berkata terus terang? Mengapa justru orang ini bersikap ramah padanya? Kalau berniat, sebenarnya saat ini dia bisa meringkus Roque dengan mudah tanpa perlawanan. Ataukah ini hanya sebuah perangkap untuk Roque? Pikiran Roque bercampur aduk. Berjuta kemungkinan terlintas di benaknya. Ia sangat bingung harus bagaimana.

Belum selesai Roque dengan kegundahannya, Ricci sudah berkata lagi.

“Kalau begitu apa pekerjaanmu?” Ricci meminum bir itu.

“Ah… saya? Mmm… saya hanya seorang kurir pengantar barang”, Roque terlihat gugup di depan Ricci.

“Sudah lama tinggal di sini?”

“Sekitar dua tahun lebih”, Roque menjawab pertanyaan Ricci dengan sangat hati-hati.

“Kalau di lihat dari wajah, nama dan aksen bahasa Italia anda, sepertinya jika saya tak salah, anda berasal dari Amerika latin?”, Ricci tersenyum pada Roque.

“Ya, suatu desa kecil di pinggiran Meksiko. Rokok?” Roque menyalakan Marlboro lalu menawarkan rokok itu pada Ricci.

“Terima kasih, maaf saya tidak merokok. Sudah lama saya berhenti merokok”
Ricci menolak tawaran Roque dengan sopan.

‘Sial! Orang ini benar-benar ramah! Terlalu ramah untuk seorang agent yang akan menangkapku! Jelas ada yang tak beres!’ Roque bergumam dalam hati.

“Anda merantau cukup jauh hanya untuk pekerjaan seperti itu. Pastinya ada alasan khusus, kalau boleh tau apa itu?” lagi-lagi Ricci meluncurkan pertanyaan pada Roque.

“Saya memiliki seorang kerabat di sini, dia sudah tua dan saya bermaksud merawatnya. Tapi tak lama setelah saya tinggal di Italia, akhirnya dia meninggal karena penyakit jantung.”

“Maaf…”

“Ah, tak mengapa, lagi pula saya punya alasan lain bertahan di sini. Italia memiliki pesona tersendiri. Itu membuat saya kerasan tinggal di sini dan akhinya saya memutuskan untuk bekerja dan menetap di Roma.” Roque mulai bisa bersikap tenang dan mengimbangi lawan bicaranya. Ya, bukan Roque kalau ia tak bisa mencairkan keadaan.

“Hahahaha… anda benar sekali! Ketika saya sedang berada dalam tugas-tugas di luar negeri, saya juga selalu merindukan suasana di sini. Saya selalu ingin kembali ke sini untuk sekedar menikmati pizza dan gelato kesukaan saya!”

“Hahaha… ya… ya... atau untuk sekedar menghirup cappuccino dengan aroma khas-nya bersama pemandangan sungai Travere yang membentang indah!”. Kini Roque yang balas tersenyum pada Ricci.

Di tengah penbicaraan tiba-tiba saja Ricci melihat arloji di lengan kanannya, dan sepertinya ia teringat akan sesuatu.

“Ups, maaf... agaknya obrolan kita harus ditunda dulu, aku masih punya urusan lain yang harus segera ku selesaikan. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi, atau kau bisa datang ke tempatku. Aku tinggal di kamar apartement no 115, kita bisa lanjutkan obrolan kita sambil menikmati beberapa koleksi wine dan scott ku, bagaimana?”

“Perfecto! Sangat sempurna. Aku akan sangat menantikan saat itu”, Roque menunjukkan sikap antusias di depan Ricci.

“Baiklah, terima kasih, sampai jumpa lagi kawan.”

“Ok, senang berkenalan dengan anda. Sampai jumpa lagi...”




***



Gianni Vallota Café- Via Delle Fornacci, Roma, Italia- 4 Maret 2008, 12.00_


Siang itu terik matahari di luar sana sedang berada pada puncaknya. Andrea tengah sibuk mengantarkan pesanan para pengunjung café, sementara itu beberapa pelayan yang lain terlihat sedang melayani pembeli dari counter. Salah seorang dari mereka tampak sedang menerima telepon di meja yang terletak tepat di samping wastafel, dan sebagian lainnya disibuk-kan oleh pekerjaan-pekerjaan yang sepertinya akan menguras banyak tenaga mereka karena hari itu pengunjung café terlihat lebih ramai dari biasanya.

Di sela-sela waktu bekerja Andrea menyempatkan untuk menelepon Roque yang sampai siang itu belum juga muncul. Ia masuk ke dalam ruang istirahat, membuka locker miliknya, lalu mengambil ponsel dari tas putih di dalam locker tersebut.
Setelah beberapa nada sambung, akhirnya panggilan itu tersambung juga pada orang yang di maksud.

“Halo…” Roque mengangkat telepon dengan suara berat.

“Roque, syukurlah! Akhirnya kau angkat juga teleponmu.”

“Kenapa?”

“Dari semalam beberapa kali kuhubungi ponselmu tapi tidak kau angkat.”

“Oh… maaf. Aku tertidur pulas semalam. Mungkin kelelahan”, Suara Roque masih terdengar berat.

“Kau baik-baik saja kan?”

“Hey… ayolah… aku ini bukan anak kecil. Kalau aku masih bisa mengangkat telepon dan bicara itu artinya aku baik-baik saja kan?!”

“Ya, aku tahu kau bukan anak kecil. Orang dewasa juga bisa tidak sehat kan! Suaramu terdengar agak berat, jadi kurasa wajar saja kalau aku mengkhawatirkanmu!”

Roque tersenyum sesaat…

“Baiklah… Andrea, sekarang aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku sehat, cuma ada satu yang kurang…”

“Apa?”

“Aku kehabisan rokok. Sebenarnya aku masih punya yang semalam, tapi aku lupa dimana menaruhnya. Hehehe…”

“Dasar orang aneh! Menyebalkan!”

Andrea kesal oleh sikap Roque yang sulit untuk diajak serius. Tapi justru raut wajahnya menggambarkan ia merasa lega karena tahu Roque baik-baik saja.

“Sebentar, jangan dulu ditutup. Aku sedang mencari rokok-ku…”

Roque mencari-cari rokoknya di atas meja yang penuh dengan kertas-kertas berantakan. Sisa cappuccino masih ada di cangkirnya dan dibiarkan begitu saja sejak kemarin di atas meja. Rokoknya tak ada di sekitar situ, ia cari lagi di sofa, di atas cabinet, di jendela, di samping lemari es, tapi disana juga tak ada bungkus rokok berwarna merah putih itu. Roque belum putus asa, ia mengingat-ingat terakhir kali ia memegang bungkus rokok itu semalam…

“Sudah ketemu?”

“Sebentar…”

Roque teringat sesuatu… ya, tempat tidur! Ia segera meraih selimut di atas kasur dan membukanya. Ternyata benar, sebungkus Marlboro itu ada disana, sedang bersembunyi di balik selimut.

“Akhirnya… sudah ketemu”, lalu Roque menyalakan sebatang.

“Sepertinya kau tak bisa hidup tanpa rokok!”

“Saling membutuhkan, lebih tepat begitu.”

Roque berjalan ke jendela, hal yang paling ia sukai jika dia sedang berada di apartement-nya.

“Hmmm… berapa batang yang kau habiskan dalam sehari?”

“Sekitar empat bungkus, atau tepatnya delapan puluh batang!”

“Great! Ku rasa tak lama lagi kau sudah mengidap Pneumonia!”

“Itu belum seberapa. Delapan puluh batang adalah hari-hari normal. Kalau aku sedang sibuk bisa sekitar enam bungkus, dan kalau aku sedang stress bisa sampai tujuh atau delapan bungkus sehari, atau tepatnya…”

“140-160 batang dalam sehari! Kau sudah gila ya! Itu artinya kau bisa menghabiskan 4800 batang rokok dalam sebulan dan 57600 batang setahun! Apa kau tidak sayang dengan nyawamu?!”

Saking kesalnya, tanpa disadari Andrea berbicara dengan nada cepat dan suara keras. Tapi Roque hanya tersenyum manis sambil melihat-lihat pemandangan dari lensa monocular-nya.

“Hmmm… hitung-hitunganmu ternyata masih bagus juga… kukira sejak tak lagi jadi navigator-ku, kau sudah tak pandai berhitung.”

Roque menghirup dulu rokoknya dalam-dalam kemudian meneruskan berbicara dengan nada yang lebih serius tapi tetap santai.

“Baiklah bu dokter, dengar baik-baik; orang terakhir yang ku-lubangi kepalanya, ia tak lagi merokok sejak usianya belum mencapai 30 tahun. Ia tidak begitu suka alkohol kecuali di suatu acara ceremonial, yang itu tak lebih merupakan bagian dari professionalisme kerjanya. Dia tidak bermain-main dengan wanita, layaknya para the big boss berbadan gemuk yang dengan bodohnya mengira bahwa mereka adalah pria yang gagah! Lebih hebatnya lagi, ia tak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Padahal kalau mau, dia sangat mampu membeli 10 kg cocain dalam sehari! Tapi apa yang terjadi padanya… dia mati tertembus timah panasku hanya dalam waktu satu detik, padahal sebelum itu ia masih sehat dan segar-bugar!”

Andrea bergumam dalam hati,

‘Roque memang sangat mengerikan untuk seorang pembunuh bayaran. Bagaimana tidak, ia bisa mengetahui keadaan target-nya sedetail itu! Ia juga dapat memastikan kondisi latar belakang si orang itu dengan sangat baik! Dan lagi, kejadian di café kemarin menggambarkan bahwa Roque memiliki instinct yang sangat tajam. Ya, jelas sekali. Dia bisa mengetahui jumlah orang di dalam sebuah mobil dengan jarak sekian jauh dan tertutup. Hebatnya lagi, Roque dapat memperhitungkan bahwa orang-orang itu bersenjata dan memiliki potensi bahaya! Aku baru tahu itu dengan pasti setelah melihat sendiri orang itu memiliki senjata dan ternyata memang benar ia seorang polisi. Suatu instinct yang luar biasa! Tapi kenapa aku tak pernah merasa takut padanya?”

“Hei! Kenapa jadi diam saja?” Roque membuat Andrea terkejut.

“Mmm… kalau dia bisa membeli cocain sebanyak itu dalam sehari, lantas untuk apa?” Andrea mulai tersenyum.

“Ia gunakan sebagai bahan pengganti garam untuk memasak makanan di rumahnya!”

“Hahahaha…”

Andrea tertawa terbahak-bahak, tetapi Roque hanya tersenyum saja. Hal itu sudah biasa. Tapi anehnya, Roque tak menceritakan kejadian tadi pagi tentang pertemuan-nya dengan Ricci pada Andrea. Entah kenapa Roque menutup-nutupi itu dari Andrea.

“Nanti malam kau ada acara?” Roque bertanya pada Andrea.

“Sepulang dari sini aku tak ada acara lagi.”

“Baiklah kalau begitu, nanti malam kau kuhubungi lagi, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.” tegas Roque.

“Ok, ku tunggu ya. Bye…”

TUT--TUT--TUUT--TUT--TUT….

Roque langsung memutuskan pembicaraannya di telepon tanpa menjawab salam Andrea terlebih dahulu. Terang saja hal itu membuat Andrea sangat kesal dan bertambah marah. Wajah Andrea terlihat cemberut dan sepertinya ia sedang merasa ingin sekali mencaci-maki Roque. Andrea menutup kembali ponselnya dengan sangat kesal, melemparkan ponsel itu ke dalam locker, lalu menutup pintu locker tersebut dengan setengah membanting.

Kemarahan Andrea tak berlangsung lama. Hanya beberapa saat setelah itu, Andrea sudah tersenyum kembali. Ia tersadarkan bahwa orang yang baru saja ia hadapi adalah seorang Roque. Memang begitulah watak Roque; acuh, dingin, keras kepala, dan menjengkelkan! Sepertinya, tak pernah sehari-pun Roque bersikap tanpa membuat orang jengkel! Itulah Roque, dan begitulah cara Andrea memahami Roque.






***







Via Del Vascello, Roma, Italia. 19.10_



Sore itu suasana agak sunyi hingga gonggongan anjing-anjing liar pada gang sempit di Via Del Vascello dapat terdengar dengan jelas.

Kediaman Andrea tak begitu istimewa karena pada dasarnya ia adalah seorang wanita sederhana. Ia hanya menempati sebuah rumah dengan satu kamar tidur lengkap dengan bathroom-nya, sebuah dapur mini, ruang tamu dan ruang tengah seadanya, serta halaman depan yang tak terlalu luas namun tetap rapih. Rumah kecil yang terletak pada sebuah jalan kecil di ujung jalan Via Delle Fornacci itu tetap terlihat asri berkat sentuhan tangan dingin Andrea.

Lain dengan Roque yang tidak peduli pada kebersihan dan kerapihan, Andrea mengutamakan kedua hal tadi dalam hidupnya. Itu terlihat dari keadaan rumah yang selalu tertata rapih. Tak ada sedikitpun sampah berserakan di rumahnya, tak ada sarang laba-laba di atap, tak ada cat tembok kusam, dan barang-barang selalu terletak pada tempatnya. Suatu kebiasaan baik yang sangat sulit di tularkan pada Roque!

Andrea tengah asyik berendam pada bathtub sambil membersihkan tubuhnya di kamar mandi ketika ponselnya berdering. Tentu saja ia sama sekali tak mendengar karena suara kucuran air di shower lebih jelas terdengar daripada bunyi ponsel di ruang tengah yang letaknya cukup jauh dari kamar mandi.

Berkali-kali si penelepon mengulang panggilannya, sampai akhirnya suara itu mati Andrea belum juga mendengar. Lalu beberapa saat kemudian berganti telepon rumah yang berdering dan sekarang suaranya jauh lebih keras dari ponsel Andrea. Kali ini Andrea mendengar suara tersebut. Ia buru-buru membilas tubuhnya lalu membungkus tubuh indahnya itu dengan sehelai handuk putih kemudian bergegas meraih telepon di ruang tengah.

“Halo, selamat sore, dengan Andrea disini…”

“Sudah kau bilas busa-busa di tubuhmu?”, Suara Roque yang khas terdengar agak samar di telepon.

“Upfhh… kau lagi Roque…”
Andrea berpikir sebentar, lalu sesuatu terlintas di benaknya.

“Hei, jangan-jangan sejak tadi kau sedang mengintipku dengan mainan binocular-mu itu ya!” wajah Andrea berubah kemerahan sambil menengok-nengok ke sekeliling rumahnya.

“Aku masih di apartement-ku, dan binocular yang kau sebut mainan itu ada di dalam lemari besi” seperti biasa, Roque berbicara dengan nada datar-datar saja meskipun Andrea telah menuduhnya.

“Hei, kau jangan main-main dengan ku black jaguar! Dasar pria aneh!”

“Aku tidak sedang bermain-main”

“Lalu apa?! Maksudku, kalau kau tidak sedang mengintip, bagaimana kau tahu aku sedang mandi? Kau kan malaikat pencabut nyawa, bukan malaikat pengintip wanita yang sedang mandi!”

“Aku benar-benar jauh dari perbuatan kotor seperti itu.” Roque masih datar saja dalam berbicara walaupun tuduhan atas dirinya semakin gencar.

“Kau ini memang pria aneh yang hobinya membuat orang jengkel! Lalu dari mana kau tahu!”

“Prediksi.” Roque menjawab dengan tenang.

“Hehm… apa prediksimu itu selalu tepat, hingga kau bisa tahu persis wanita yang sedang mandi walaupun kau tak melihatnya?! Mau alasan apa lagi heh?”

Sejak tadi perkataan dan nada bicara Andrea seperti orang yang sedang kesal. Tapi jika dilihat dari raut wajahnya, ia sama sekali tak tampak seperti orang yang sedang kesal. Lebih terlihat seperti orang yang sedang menggoda.

“Bagiku prediksi punya arti penting. Semakin tepat prediksimu, maka akan semakin akurat kau dalam mencapai terget. Dan itu akan memudahkanmu dalam menjalani kehidupan.”

“Hei Black Jaguar, masalahnya ini bukan sniping action!”

“Hufff…” Roque menghela nafas panjang lalu menghembuskanya. Setelah itu ia melanjutkan berbicara,

“Well Andrea… kau selalu punya cara untuk membuatku bicara lebih banyak. Dengar baik-baik, seorang wanita yang bekerja di sebuah café akan menghabiskan banyak waktunya dalam sehari pada pekerjaanya itu. Ia tidak punya cukup waktu untuk memanjakan dirinya dengan jam istirahat dua kali empat puluh lima menit di waktu hari-hari kerjanya yang padat. Kesempatan terbaik adalah waktu sepulang kerja. Ia akan menggunakan waktu itu untuk melepaskan lelah sambil membersihkan tubuh, karena pada umumnya wanita cinta akan kebersihan dan perawatan tubuh. Apalagi jika melihat kulit mulus dan tubuh indahmu, kau tak kan melewati saat-saat dimana kau bisa memanjakan keduanya. Dan ku pikir cara yang terbaik adalah dengan berendam di bathtub sambil menikmati aroma therapy. Dan jika prediksiku ini akurat, maka aku dapat mengetahui keadaanmu dengan mudah tanpa harus datang kesana dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, apalagi dengan di bantu binocular mainan!”

Penjelasan panjang-lebar Roque itu sontak membuat Andrea tak bisa berkata apa-apa. Kali ini ia tak bisa berdebat lagi dengan Roque.

‘Sial, dia memang punya instinct yang luar biasa! Berkali-kali ku ingatkan diriku sendiri, tapi kenapa belum hafal juga! Bodohnya aku ini!’ Andrea hanya bisa bergumam dalam hati saja.

“Hei, kenapa diam?”

“Ya sudah, terserah kau sajalah!”

“Hmmm…” Roque tersenyum.

“Bagaimana Roque, tadi siang sepertinya kau bilang ada sesuatu yang ingin di bicarakan?”

“Aku sudah meninggalkan pesan di ponselmu.”

Roque langsung memutus sambungan telepon tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Dan memang selalu seperti itu.

Setelah menutup telepon, Andrea segera mengambil ponsel di dalam tas putih yang tergeletak di atas meja ruang tengah. Di dapatinya sebuah pesan singkat masuk dengan Roque sebagai nama pengirimnya:

‘Crudo, 09.00 pm. 23rd table.’








***









Crudo, Via degli Specchi. Roma, Italia. 21.00_


Saat itu Andrea tengah memasuki Crudo, sebuah wine bar dan restaurant unik yang baru kali ini ia kunjungi. Andrea mencari-cari meja ber nomor 23 sambil melihat-lihat keadaan sekitar karena suasana di dalam bar ini masaih asing baginya.

Bar tersebut tersembunyi di sebuah jalan kecil diantara Campo dei Fiori dan Tiber. Jika kita melihat suasana ke dalam, atmosfir nya seolah mendorong kita mendekat dengan kawasan Soho Manhattan. Dekorasi bergaya tahun 50-an di cerminkan pada sofa-sofa dan kursi, belum lagi lampu-lampu hias yang jumlahnya cukup banyak ikut memperkental style di era tersebut. Sebuah sisi dinding di dominasi oleh layar video projector yang menampilkan animasi-animasi kreatif yang akan menarik perhatianmu selama kau sedang di sana.

Bicara soal minuman dan makanan, bar ini memiliki banyak pesona. Crudo menawarkan deretan panjang berbagai wine di dalam botolnya ataupun dalam gelas, berbagai jenis Martini, cocktail yang eksotik, sampai pada menu dinner yang tidak biasa. Semua makanan disajikan dengan cara yang minimalis; hanya di masak dengan uap atau tersaji mentah, di hidangkan bersama berbagai tanaman herbal dengan kombinasi rasa yang istimewa.

Akhirnya Andrea menemukan meja yang ia cari, ada si sisi yang bagus dengan menghadap keluar. Hampir semua sudut pemandangan dapat terlihat dengan baik dari sisi ini, dan pilihan meja seperti ini merupakan hal yang sangat Andrea kenal dari seorang Roque.

“Sudah lama menunggu, Roque?” Andrea tersenyum menyapa Roque.

“Bisa juga kau temukan tempat ini” Seperti biasa, Roque bicara sambil menghisap Malboro-nya tanpa memandang Andrea.

“Lumayan sulit di cari. Kenapa kau pilih tempat yang sulit di temukan seperti ini? Lagi pula kalau tak salah kau tak pernah menyinggung tentang tempat ini sebelumnya.”

“Ya, ini post kedua.”

“Maksudmu?”

“Dalam menjalankan aksi, aku selalu punya rencana cadangan.”

“Dan post kedua ini adalah bagian dari rencana cadanganmu?”

“Tepat sekali.”

“Baiklah Roque, aku sering tak mengerti jalan pikiranmu, tapi ya sudahlah sekarang yang ingin ku tanyakan adalah apa yang ingin kau bicarakan? Pasti sesuatu yang sangat penting.”

Belum sempat Roque menjawab pertanyaan Andrea, pembicaraan mereka terputus oleh seorang pelayan yang datang menghampiri meja mereka.

“Maaf mengganggu, kami antarkan hidangan pembuka sebagai free service dari Crudo, tuan dan nona” pelayan itu menaruh hidangan pembuka berupa oyster dan kerang ke atas meja.

“Saya pesan Carpaccio, lalu saya minta Blue Martini nya di tambah lagi, untuk dua orang.” Setelah memesan, Roque menyerahkan buku daftar menu pada Andrea.

“Baik, silahkan nona.” Pelayan itu mempersilahkan Andrea untuk melihat daftar menu yang tersedia.

“Kalau saya… Sashimi. Sepertinya bagus untuk menemani kerang-kerang ini.”

Andrea menyerahkan kembali buku daftar menu tersebut pada si pelayan seraya tersenyum. Setelah pelayan itu berlalu, mereka meneruskan pembicaraan yang sempat terputus tadi.

“Langsung pada pokok pembicaraan.” Roque membuka sambil mencicipi kerang di hadapannya.

“Ok.”

“Setelah ku pertimbangkan, sementara waktu ini rasanya aku harus mengasingkan diri dari Roma.” Roque meraih tissue lalu membersihkan mulutnya.

“Menghilang lagi?” Andrea agak terkejut dengan keputusan Roque, karena belum lama Roque sempat menghilang juga beberapa saat yang lalu.

“Ya, setidaknya sampai kondisi dirasa sudah kembali normal.”

“Apa pertimbanganmu?” kali ini giliran Andrea yang mencicipi oyster.

“Aku merasa telah berada cukup dekat dengan pihak-pihak yang mencari ku.”

“Lalu?”

“Sebagai bagian dari konsekuensi pekerjaanku, aku harus lari dari mereka!”

Roque tak menceritakan tentang pertemuannya dengan Ricci. Hal ini dapat di mengerti mungkin karena ia tak ingin membuat Andrea panik.

Andrea berfikir sejenak, lalu meneruskan dengan pertanyaan lagi,

“Lalu kau akan kemana?”

Pembicaraan mereka terputus kembali karena pelayan tadi datang mengantarkan pesanan.

“Silahkan tuan dan nona.” Setelah semua pesanan selesai di letakkan di atas meja pelayan tesebut mohon undur diri.

“Terima kasih.”

Hanya Andrea yang menjawab pelayan itu, dan Roque cuma acuh saja karena ia tak ramah pada orang lain.

“Veniche akan menjadi pilihan ku untuk mengasingkan diri.” Roque menyambung pembicaraan kembali.

Kali ini Andrea tak berkata apa-apa lagi, wajahnya tampak berpikir dengan sangat serius. Dan untuk beberapa saat mereka tak saling bicara sambil diselang menyantap makanan. Berulang kali Andrea menatap wajah Roque yang tertunduk di balik topinya, tapi Roque hanya menatap sepiring Carpaccio yang sedang ia nikmati.

Lalu setelah semua itu berselang, pembicaraan pun terpecah kembali,

“Jaga dirimu baik-baik di sana.” Andrea berkata dengan suara pelan.

“Harusnya aku yang berkata seperti itu.”

Roque menatap Andrea dan tersenyum, lalu Andrea pun membalas senyum Roque dengan cara yang lebih manis.

0 komentar:

Post a Comment